Rabu, 09 Desember 2020

Jurnal Percobaan XI "Uji Karbohidrat"

JURNAL PERCOBAAN XI

“UJI KARBOHIDRAT”






NAMA : KELANTAN

NIM : A1C118023


DOSEN PENGAMPU :

Dr.Drs.SYAMSURIZAL, M.Si.



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JAMBI

2020







PERCOBAAN XI


I. Judul : Uji Karbohidrat

II. Hari, tanggal : Jum'at, 11 Desember 2020

III. Tujuan

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah :

  1. Dapat mengetahui karbohidrat yang lazim dan sifat fisisnya
  2. Dapat mengetahui dan mempelajari perbedaan sifat fisis dan kimia dari monosakarida, disakarida dan polisakarida
  3. Dapat mengetahui reaksi karbohidrat dengan kimiawi dasar dari gugus fungsi
  4. Dapat mempelajari dan mengetahui beberapa reaksi karbohidrat yang penting dalam metabolisme


IV. Landasan Teori

Karbohidrat merupakan senyawa dengan rumus molekul CN(H2O)n. Karbohidrat adalah turunan aldehid atau keton dari alkohol pelihidroksi atau senyawa turunan sebagai hasil hidrolisis senyawa kompleks. Karbohidrat dihasilkan oleh tumbuhan yang merupakan cadangan makanan yang disimpan dalam akar, batang dan biji sebagai pati (Amilin). Karbohidrat terdiri dari 3 kelompok yaitu monosakarida, oligosakarida dan polisakarida. Monosakarida merupakan karbohidrat yang paling sederhana. Oligosakarida merupakan senyawa yang dihidrolisis menghasilkan 2 sampai 6 gula monosakarida sedangkan polisakarida merupakan monomer-monomer yang berasal dari monosakarida (Tim Praktikum Kimia Organik II, 2020).

Karbohidrat terdiri dari unsur C, H, dan O. Jumlah atom hidrogen dan oksigen merupakan perbandingan 2:1. Karbohidrat dapat dibedakan menjadi: monosakarida, oligosakarida, dan polisakarida. Monosakarida ialah karbohidrat yang paling sederhana yang tidak dapat dihidrolisis menjadi karbohidrat lain. Sebagian besar monosakarida dikenal sebagai heksosa, karena terdiri atas 6-rantai atau cincin karbon. Menurut Sunita Almatsier, ada tiga jenis heksosa yang penting dalam ilmu gizi, yaitu glukosa, fruktosa, dan galaktosa. Ketiga macam monosakarida ini mengandung jenis dan jumlah atom yang sama, yaitu 6 atom karbon, 12 atom hidrogen, dan 6 atom oksigen. Perbedaannya hanya terletak pada cara penyusunan atom-atom hydrogen dan oksigen di sekitar atom-atom karbon (Almatsier, 2009).

Glukosa terdapat luas di alam dalam jumlah sedikit, yaitu di dalam sayur, buah, sari pohon, dan bersamaan dengan fruktosa dalam madu. Selain dari sumber tersebut, glukosa dihasilkan pula sebagai hasil cernaan pati menjadi dekstrin, dekstrin berubah menjadi maltose, dan akhirnya menjadi dua molekul gula glukosa. Glukosa memegang peranan sangat penting dalam ilmu gizi. Dalam proses metabolisme, glukosa merupakan bentuk karbohidrat yang beredar di dalam tubuh dan di dalam sel merupakan sumber energi. Dalam keadaan normal, system syaraf pusat hanya dapat menggunakan glukosa sebagai sumber energy. Fruktosa, dinamakan juga levulosa atau gula buah adalah gula paling manis. Fruktosa mempunyai rumus kimia yang sama dengan glukosa, C6H12O6 namun strukturnya berbeda. Susunan atom dalam fruktosa merangsang jonjot kecapan lidah sehingga menimbulkan rasa manis. Gula ini terdapat dalam madu bersama glukosa, dalam buah, nektar bunga, dan juga di dalam sayur (Kartasapoetra dan Marsetyo, 1995).

Karbohidrat juga merupakan bagian dari struktur sel, dalam bentuk glikoprotein. Reseptor seluler yang terdapat pada permukaan membrane sel adalah suatu glikoprotein. Selain itu, di dalam hidangan karbohidrat memudahkan pemberian bentuk kepada makanan, misalnya dalam bentuk kue. Dalam proses fermentasi, karbohidrat mempunyai sifat-sifat khusus untuk mendapatkan hasil olah yang disukai konsumen. Jika panaskan pada suhu tinggi, karbohidrat menjadi caramel yang beraroma khas. Mono dan disakarida berfungsi sebagai pemanis di dalam makanan. Rasa manis merupakan kualitas kecapan yang disenangi manusia sejak lahir. Kalau seorang bayi atau anak kecil diberi pilihan dari berbagai rasa (manis, pahit, asin, dan asam) maka rasa manis akan menjadi pilihan utama. Tingkat manis sebagai standard yaitu sukrosa (100), fruktosa (173), glukosa (74), galaktosa (32), maltose (32), dan laktosa (16) (Sediaoetama, 2000).

Menurut Bintang (2010). Uji kualitatif karbohidrat  yang mendasarkan pada pembentukan warna dapat dilakukan  dengan cara: 

a. Uji molish

Uji ini berlaku umum, baik untuk aldosa maupun  ketosa. Caranya, karbohidrat ditambah H2SO4 melalui dinding-dinding tabung. Asam sulfat akan menyerap air  dan membentuk furfural yang selanjutnya dikopling  dengan α-naphtol membentuk senyawa gabungan berwarna  ungu. Jika yang dideteksi pentose akan terbentuk furfural,  sementara itu jika aldosa yang dideteksi akan terbentuk  hidroksi metilfurfural.14 

b. Uji selliwanof

Uji ini positif terhadap ketosa, misal fruktosa. Akan tetapi negative terhadap aldosa. Pereaksi dibuat dengan  mencampurkan resorsinol dengan HCl pekat kemudian  diencerkan dengan akuades. Uji dilakukan dengan  menambahkan larutan sampel ke dalam pereaksi lalu  dipanaskan dalam air mendidih. Adanya warna merah  menunjukkan adanya ketosa.

c. Uji benedict

Uji ini positif untuk gula pereduksi/ gula inversi seperti glukosa dan fruktosa. Caranya gula reduksi ditambahkan dengan campuran CuSO4 (tembaga sulfat), natrium sitrat  (NaSO3) dan natrium karbonat (NaCO3) lalu dipanaskan  maka akan terbentuk endapan kupro oksida (Cu2O) yang  berwarna merah coklat. Uji ini terjadi dalam suasana basa/alkalis karena gula  akan mereduksi dalam suasana basa. Natrium sitrat  berfungsi sebagai pengkelat Cu dengan membentuk  kompleks Cu- sitrat. Natrium karbonat berfungsi untuk  menciptakan suasana basa. Berikut ini bentuk reaksi yang  terjadi pada uji benedict. 

d. Uji fehling

Uji ini hampir sama dengan uji benedict yang bertumpu pada adanya gula pereduksi pada karbohidrat. Cara ujinya:  gula reduksi ditambah campuran larutan CuSO4 dalam  suasana alkalis (dengan ditambah NaOH) dan ditambah dengan Chelating agent, lalu dipanaskan maka akan terbentuk endapan kupro oksida. 

e. Uji iodium

Polisakarida dengan penambahan iodium akan membentuk kompleks adsorpsi berwarna yang spesifik. Amilum atau pati yang dengan iodium menghasilkan warna biru, dekstrin menghasilkan warna merah anggur, sedangkan glikogen dan sebagian pati yang terhidrolisis akan membentuk warna merah.


V. Alat dan Bahan

5.1 Alat

  • Tabung reaksi
  • Termometer
  • Pipet tetes
  • Pipet volume
  • Bulb (filler)
  • Kompor listrik/spiritus
  • Pengaduk Kaca
  • Mortar
  • Stopwatch
  • Gelas Kimia 100 dan 200 ml   

5.2 Bahan

  • Glukosa
  • Sukrosa
  • Selulosa (Pati)
  • Asam sulfat pekat (H2SO4)
  • Asam Klorida (HCl)
  • Natrium Hidroksida (NaOH)
  • Peraksi Molisch
  • Larutan Iod
  • Pereaksi Tollens
  • Pereaksi Fehling A dan B
  • Pereaksi Basa Kuat
  • Pereaksi Iod
  • Aquades


VI. Prosedur Kerja

6.1 Uji Molisch

  • Disiapkan tabung reaksi bersih, masing-masing diisi dengan 5 ml larutan gula (glukosa, sukrosa, pati atau selulosa dalam air).
  • Ditambahkan 1 tetes pereaksi molisch (alfa naftol dalam alkohol), kocok perlahan.
  • Dimiringkan tabung dan ditambahkan 5 ml asam sulfat pekat melalui dinding tabung.
  • Diperhatikan warna yang terbentuk pada batas pertemuan dari dua lapisan cairan dalam tabung berupa cincin merah/violet. Bila campuran dikocok dan diencerkan dengan 5 ml air terbentuk warna ungu tua.


6.2 Reaksi Glukosa

a) Dengan pereaksi Fehling

  • Disiapkan tabung reaksi bersih, dimasukkan 2 ml larutan fehling A dan 2 ml larutan fehling B dilanjutkan dengan menambahkan beberapa tetes larutan glukosa.
  • Dikocok perlahan, lalu masukkan tabung reaksi kedalam penangas air mendidih.
  • Diamati dan dicatat perubahan yang terjadi, lalu tuliskan reaksinya


b) Dengan pereaksi Benedict

  • Disiapkan tabung reaksi bersih, dimasukkan 2 ml pereaski benedict, lalu ditambahkan beberapa tetes glukosa.
  • Diaduk perlahan, lalu dimasukkan kedalam penangas air mendidih.
  • Diamati dan dicatat perubahan yang terjadi, lalu tuliskan reaksinya.


c) Dengan pereaksi Tollens

  • Disiapkan tabung reaksi bersih, dimasukkan 2 ml pereaski tollens, lalu ditambahkan beberapa tetes glukosa.
  • Diaduk perlahan, lalu dimasukkan kedalam penangas air mendidih sampai terbentuk cermin perak pada tabung reaksi.
  • Diamati dan dicatat perubahan yang terjadi, lalu tuliskan reaksi pembentukan cermin perak


d) Uji Iod

  • Dimasukkan sampel glukosa, sukrosa, selulosa (pati) sebanyak 5 ml kedalam tabung reaksi.
  • Ditambahkan 5 tetes larutan iod
  • Diamati perubahan warna yang terjadi.


e) Dengan basa kuat

  • Disiapkan tabung reaksi bersih, dimasukkan 2 ml larutan glukosa 10% dan 0,5 ml NaOH 25%.
  • Diaduk perlahan dan dipanaskan dalam air mendidih selama 5 menit.
  • Diperhatikan rupa dan bau zat yang terbentuk dan hasil reaksinya.


f) Reaksi Sukrosa

  • Dilarutkan 1,5 gram sukrosa dalam 200 ml air.
  • Dilakukan percobaan B (1,2,3 dam 4) menggunakan sukrosa sebagai pengganti glukosa.


g) Reaksi Laktosa

  • Dilarutkan 1,5 gram sukrosa dalam 200 ml air.
  • Dilakukan percobaan B (1,2,3 dam 4) menggunakan sukrosa sebagai pengganti glukosa.


6.3 Reaksi Pati

  • Digerus sebanyak 0,5 gram pati menggunakan mortar kecil dengan sedikit air hingga terbentuk pasta.
  • Dipindahkan pasta kedalam gelas piala, tambahkan air dan lakukan dekantasi sebanyak 3 kali dengan air sampai cairan diatas endapan menjadi bening.
  • Dipindahkan pati yang telah dicuci kedalam gelas piala berisi 100 ml air mendidih sambil dikocok perlahan.
  • Dilakuan percobaan menggunakan pereaksi fehling, basa kuat dan pereaksi iod dengan menggunakan 2 ml larutan suspense zat pati setiap percobaan.
  • Diamati seksama dan catat perubahan yang terjadi pada setiap pereaksi yang digunakan.


6.4 Reaksi Pati yang dihidrolisis

  • Dimasukkan 10 ml larutan pati pada sisa percobaan diatas dalam tabung reaksi, lalu tambahkan 1 ml HCl pekat dan panaskan perlahan dengan api kecil.
  • Bila suhu mencapai 80°C, diteteskan sedikit cairan tersebut pada larutan iodium dalam sebuah lempeng penguji warna.
  • Dilanjutkan pemanasan sampai larutan mendidih sambil setiap menit dilakukan uji warna. Dilakukan 5/6 kali atau sampai tidak terjadi lagi perubahan warna larutan.
  • Diamati dan mencatat setiap perubahan warna serta menetralkan larutan zat pati yang telah dihidrolisis tadi dengan larutan NaOH 10%, lalu uji menggunakan pereaksi fehling.


Link video terkait percobaan X :

https://youtu.be/j4sYs4f-UPM

https://youtu.be/-OFCo_FItPg

https://youtu.be/bZMuE8k1DNQ


Permasalahan :

  1. Pada percobaan ini menggunakan sukrosa dan glukosa. Bagaimana jika sukrosa atau glukosa diganti dengan fruktosa dan pengaruhnya terhadap hasil produk?
  2. Pada Reaksi Pati yang dihidrolisis, salah satu perlakuannya terdapat penambahan HCl pekat. Jika HCl diganti dengan H2SO4 sebagai katalisnya, bagaimana pengaruhnya terhadap hasil dari reaksi tersebut?
  3. Mengapa pada percobaan reaksi sukrosa dan laktosa, sukrosa dapat menggantikan fungsi dari penggunaan glukosa?

Selasa, 08 Desember 2020

Jurnal Percobaan X "Isolasi Senyawa p-metoksi Sinamat Dari Kencur"

 JURNAL PERCOBAAN X

“ISOLASI SENYAWA P-METOKSI SINAMAT DARI KENCUR”






NAMA : KELANTAN

NIM : A1C118023


DOSEN PENGAMPU :

Dr.Drs.SYAMSURIZAL, M.Si.



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JAMBI

2020







PERCOBAAN X


I. Judul : Isolasi Senyawa p-metoksi Sinamat Dari Kencur

II. Hari, tanggal : Jum'at, 11 Desember 2020

III. Tujuan

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah :

  1. Dapat menguasai teknik isolasi bahan alam khususnya fenilflavonoid
  2. Dapat mengenal sifat-sifat kimia fenil propanoid melalui reaksi-reaksi pengenalan yang spesifik.


IV. Landasan Teori

Kencur (Kaemferiam galangal L) merupakan tanaman yang banyak tumbuh di perkebunan dan pekarangan daerah kawasan tropis, dan biasanya sering digunakan sebagai bumbu dapur yang memiliki banyak manfaat sehingga sering kali di konsumsi singular sebagai obat tradisional Indonesia. Tumbuhan ini banyak mengandung senyawa kimia berupa etil p-metoksi sinamat, etil sinamat merupakan komponen utama, p-metoksistiren dll. Persentase etil p-metoksi sinamat di dalam kencur cukup tinggi hingga mencapai 10 %, sehingga dapat dengan mudah diisolasi dari umbi kencur dengan mengguanakan pelarut etanol ataupun petroleum (Tim Kimia Organik II, 2020).

Rimpang kencur berada di bawah dasar tanah berbentuk gerombolan bercabang dimana induk dari rimoangnya terletak di tengah. Rimpang kencur mengandung banyak air ndi dalam nya dengan bentuk fisik sebelum dikupas berwarna kecoklatan dan di dalam nya setelah di kupas berwarna putih dan terkadang kekuningan dengan bau yang khas. Tanaman kencur memiliki kandungan kimia meliputi minyak atsiri dengan persentase sekitar 2,4-2,9 % dimana senyawa ini terdiri dari etil para metoksisinamat, bornelol, kamfer, sineol, pentadekana. Terdapatnya kandngan etil para metoksisinamat di dalam rimpang kencur ini terindikasi sebagai senyawa turunan sinamat (Fessenden, 1984).

Tanaman kencur (Kaemfria galangal. L) dikenal sebagai tanaman yang kaya manfaatnya. Disamping digunakan sebagai penyedap makanan, kencur ini juga digunakan sebagai bahan dalam ramuan obat tradisional. Salah satu senyawa etil ester yang terdapat dalam kencur yaitu etil para metoksi sinamat yang tergolong fenil propanoid. Etil para metoksi sinamat termasuk kedalam golongan senyawa ester yang mengandung cincin benzene dan gugus metoksi yang bersifat non-polar. Sehingga, dalam ekstraksinya dapat menggunakan pelarut-pelarut yang mempunyai variasi kepolaran yaitu etanol, etil asetat, methanol, air dan heksana (Asyharist, 2011).

Rimpang kencur mengandung beberapa senyawa seperti minyak atsiri (2,5-4%), etil sinamat, dinamaldehid, evkalipazol, asam metal p-kromat, etil ester dan etil p-metoksi sinamat. Etil p-metoksi sinamat merupakan salah satu kandungan fitokimia utama dari tanaman rimpang kencur yang biasa digunakan untuk kosmetik, menanam, insektisida dan obat. Reaksi hidrolisis etil p-metoksi sinamat dilakukan dalam suasana basa. Reaksi hidrolisis suatu ester dalam suasana basa dikenal pula dengan reaksi saponifikasi. Mekanisme reaksi yang terjadi pada reaksi hidrolisis ester dalam suasana basa adalah melalui tahap adisi-nukleofilik dari basa OH- terhadap gugus karbonil yang membentuk intermediet tetrahedral. Reaksi pada tahap ini biasanya berlangsung dengan lambat (Fareza, dkk. 2017).

Dalam ektraksi suatu senyawa yang harus diperhatikan adalah kepolaran antara pelarut dengan senyawa yang diekstrak, keduanya harus memiliki kepolaran yang sama atau mendekati sama. Etil p-metoksi sinamat adalah suatu ester yang mengandung cincin benzene dan gugus metoksi yang bersifat nonpolar dan mengandung gugus karbonil yang mengikat etil yang bersifat agak polar menyebabkan senyawa ini mampu larut dalam beberapa pelarut dengan kepolaran bervariasi. Biasanya dalam penilitian ini pelarut yang digunakan adalah heksana, etil asetat, alcohol, aquades dan dietil eter (Selamat, 2003).


V. Alat dan Bahan

5.1 Alat

  • Erlenmeyer 250ml
  • Kertas saring
  • KLT
  • Udara Penangas
  • Corong Buchner
  • Labu bulat
  • Corong biasa
  • Penasihat
  • Alat ukur TI

5.2 Bahan

  • Kencur yang telah ditumbuk
  • Kloroform
  • Etanol
  • NaOH
  • Methanol
  • Asam sulfat klorida


VI. Prosedur Kerja

a) Isolasi Etil p-Metoksi Sinamat

  • Dimasukkan serbuk ke 250 ml Erlenmeyer
  • Direndam dengan 100 ml kloroform
  • Dihangatkan pada penangas air sambil digoyang-goyang
  • Dibiarkan selama setengah jam pada suhu kamar kemudian saring
  • Dipisahkan residu kencur dan sekali lagi perkolasi sekali lagi menggunakan pelarut dengan jumlah yang sama
  • Digabungkan Filtrat Diperoleh dan dipekatkan di bawah tekanan rendah (volume) hingga volume kira-kira setengahnya
  • Didinginkan penyelesaian pekat dalam air, padatan yang terbentuk menyimpang dengan corong Buchner, filtrat dipekatkan sekali lagi dan padatan yang kedua setelah disaring digabung kemudian ditimbang
  • Dihitung rendemennya! Reksistalisasi dilakukan dalam klorofrom, kemudian menilai titik lelehnya dan membandingkan dengan sastra (45-50ºC)


b) Pemeriksaan Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

  • Dilarutkan sampel kristal hasil isolasi dalam petroleum eter menggunakan kapiler ditotolkan pada plat KLT ukuran 2x5 cm.
  • Digunakan etil p-metoksi sinamatdan asam p-metoksi sinamat standar sebagai pembanding pada jarak 0,5 cm dari bawah
  • Dimasukkan dalam ruang yang telah dijenuhkan dengan eluen kloroform, pengamatan bercak dilakukan dengan melihat di bawah lampu UV atau dimasukkan ke ruang iodium
  • Dihitung rf-nya dan dibandingkan dengan standar


c) Pemeriksaan Spektroskopi Ultra Violet

  • Dilarutkan Kristal hasil isolasi dalam methanol
  • Dibuat spektrum ultra violetnya pada panjang gelombang 200-300 nm


d) Pemeriksaan Spektroskopi Infra Merah

  • Dibuat pelet Kristal hasil isolasi dengan KBr kering
  • Dibuat spektrum infra merahnya


Link video terkait percobaan X :

https://youtu.be/Y_afKefbuwA


Permasalahan :

  1. Pada percobaan ini salah satu perlakuan yaitu dilakukan uji KLT. Bagaimana pengaruh hasil yang diperoleh jika uji KLT tidak dilakukan?
  2. Mengapa pada pemeriksaan spektroskopi infra merah, KBr yang digunakan dalam keadaan kering? Apa yang terjadi jika KBr basah?
  3. Mengapa harus dilakukan perendaman yang cukup lama terlebih dahulu sebelum melakukan proses ekstraksi?


Senin, 07 Desember 2020

Laporan Percobaan IX "Isolasi Senyawa Bahan Alam (Flavonoid)"

LAPORAN PERCOBAAN IX

“ISOLASI SENYAWA BAHAN ALAM (FLAVONOID)”





NAMA : KELANTAN

NIM : A1C118023



DOSEN PENGAMPU :

Dr.Drs.SYAMSURIZAL, M.Si.



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JAMBI

2020




VII. Data Pengamatan


VIII. Pembahasan

Isolasi flavonoid umumnya dilakukan dengan metode ekstraksi, yakni dengan cara maserasi atau sokletasi menggunakan pelarut yang dapat melarutkan flavonoid. Flavonoid pada umumnya larut dalam pelarut polar, kecuali flavonoid bebas seperti isoflavon, flavon, flavanon,dan flavonol termetoksilasi lebih mudah larut dalam pelarut semipolar. Senyawa flavonoid diisolasi dengan tekhnik maserasi,mempergunakan poelarut methanol teknis. 

Dalam percobaan ini mengenai Isolasi Senyawa Bahan Alam (Flavonoid) pertama-tama senyawa bahan alam yang digunakan adalah kunyit. Dimana, serbuk kunyit ditimbang sebanyak 5 gram. Lalu, serbuk kunyit yang telah ditimbang tadi dibungkus menggunakan kertas saring 10 x 10 cm dan diikat dengan benang perlakuan ini berfungsi sebagai penarikan komponen. Setelah itu dimasukkan dalam ekstraktor soklet, dan memasukkan 150 ml etanol kedalam gelas beker lalu ditutup rapat agar etanol tidak menguap. Hasilnya larutan etanol berwarna bening. Perlakuan selanjutnya adalah dimasukkan batu didih kedalam labu alas bulat dan dipasang setiap sambungan pada alat soklet. Fungsi batu didih disini adalah untuk meratakan panas sehingga panas menjadi homogen pada seluruh bagian larutan pada saat itu larutan menjadi berwarna kuning keemasan. Perlakuan selanjutnya adalah dilakukan proses ekstraksi secara kontinu selama 90 menit. Fungsi dilakukannya ekstraksi disini adalah untuk pemisahan komponen yang terdapat dalam zat padat dengan cara penyarian secara berulang. Dengan 1 siklus terjadi Ketika larutan penyari turun ke dalam labu alas bulat, warna larutan berwarna emas kecoklatan. dalam ekstraksi ini berlangsung selama 90 menit terjadi 8 siklus.

Setelah diekstraksi, larutan dipindahkan kedalam gelas beker 250 ml dan ditambahkan 10 ml Pb asetat 0,1 M sambal diaduk hingga membentuk endapan. Ditambahkannya Pb asetat sebagai reagen dalam mempercepat reaksi dimana larutan berwarna merah bata dan terdapat endapan. Lalu endapan yang terbentuk didasar gelas ditambahkan 10 ml asam sulfat 0,2 M sebagai katalis dengan hasil larutan berwarna coklat tua. Barulah larutan tadi disaring menggunakan penyaring buchner. Fungsinya disini untuk menyaring larutan agar endapan tidak ikut dalam larutan. Hasilnya terdapat filtrat berwarna coklat tua, dan ada endapan kuning diatas corong bucner. Lalu dipindahkan endapan kedalam gelas beker yang telah ditimbang dan ditambahkan 5 ml etanol p.a lalu dan dipanaskan dalam panci penangas pada lemari asam agar terekstrak sempurna dalam pelarut etanol dan menguap hingga endapan kering. Dan hasilnya larutan berwarna orange dan masih terdapat sedikit endapan. Setelah mendapatkan endapan yang kerinh, ditimbang endapan kering itu lalu dicatat masa nya dengan berat endapan sebesar 0,2467 gr. Dan akhirnya diuji titik leleh nya menggunakan MPA dan hasil titik lelehnya yaitu 189°C sedangkan secara teori adalah 183°C.


IX. Pertanyaan Pasca Praktek

  1. Pada percobaan ini menggunakan pelarut etanol. Jika etanol diganti dengan metanol, bagaimana pengaruh terhadap hasil ekstraksi tersebut?
  2. Apa yang menjadi faktor lamanya proses ekstraksi dan bagaimana pengaruh waktu tersebut terhadap produk Flavonoid hasil ekstraksi tersebut?
  3. Pada percobaan ini menggunakan cara sokletasi, sedangkan biasanya ekstraksi Flavonoid menggunakan cara maserasi. Jadi, apa pengaruh dari kedua  cara tersebut dan cara mana yang menghasilkan hasil ekstraksi yang berkualitas?


X. Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari percobaan ini adalah :

  1. Teknik-teknik isolasi bahan alam khususnya flavonoid yaitu ekstraksi. Cara ekstraksi yang digunakan yaitu proses maserasi yang menggunakan teknik ekstraksi dari sampel padat (simplisia) dengan menggunakan pelarut seperti etanol.
  2. Sifat kimia flavonoid antara lain dapat larut pada pelarut seperti etanol maupun metanol (polar), bersifat asam hingga larut dalam bahasa dapat membuat warna spesifik (reaksi warna) dengan ekstraksi


XI. Daftar Pustaka

Alfaridz, Faizal dan Amalia, Riezki. 2016. Review Jurnal : Klasifikasi dan Aktivitas Farmakologi dari Senyawa Aktif Flavonoid. Jurnal Farmaka. Vol.16. No.2 Sumedang : Universitas Padjajaran.

Djamil, Ratna dan Bakriyyah, Fatimah. 2015. Isolasi dan Identifikasi Jenis Senyawa Flavonoid dalam Fase n-Butanol Daun Murbei (Morus alba L.) secara Spektrofotometri. Jurnal Ilmu Keparmasian Indonesia. ISSN 1693-1831. Semarang : Universitas Pancasila.

Lukman DR, Sumaryono. 1995. Fisiologi Tumbuhan, Jilid 2. Bandung : Penerbit ITB.

Lumbessy, Mirna. Dkk. 2013. Uji Total Flavonoid Pada Beberapa Tanaman Obat Tradisonal Di Desa Waitina Kecamatan Mangoli Timur Kabupaten Kepulauan Sula Provinsi Maluku Utara. Jurnal MIPA UNSRAT Online. Vol.2. No.1. Manado : UNSRAT.

Tim Praktikum Kimia Organik II. 2020. Penuntun Praktikum Kimia Organik II. Jambi : Universitas Jambi.

Laporan Percobaan VIII "Isolasi Senyawa Bahan Alam (Steroid dan Terpenoid)"

LAPORAN PERCOBAAN VII

“ISOLASI SENYAWA BAHAN ALAM (STEROID DAN TERPENOID)”






NAMA : KELANTAN

NIM : A1C118023



DOSEN PENGAMPU :

Dr.Drs.SYAMSURIZAL, M.Si.




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JAMBI

2020






VII. Data Pengamatan


VIII. Pembahasan

Terpenoid merupakan senyawa kimia yang terdiri dari beberapa unit isopren. Kebanyakan terpenoid mempunyaistruktur siklik dan mempunyai satu gugus fungsi atau lebih. Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal darienam satuan isopren dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30 asiklik yang disebut skualen. Triterpenoid berupa senyawa tak berwarna, bernetuk kristal, biasanya bertitik leleh tinggi.

Pada percobaan ini dapat dilihat bahwa isolasi senyawa terpenoid ini yang dilakukan pertama yaitu dilakukan isolasi Pegagang segar sebanyak 50gr yang sudah dirajang dimaserasi dengan 250ml metanol 3 x 24 jam. Hal ini dilakukan agar estrak yang diinginkan terbentuk. Setelah dimaserasi selama 24 jam, maka larutan disaring sehingga didapatkan larutan berwarna hijau. Kemudian ekstrak yang sudah disaring dan dipisahkan dari ampasnya. Selanjutnya dilakukan evaporator untuk mengendapkan pelarut yang digunakan sehingga ekstrak senyawa yang diinginkan terbentuk sengan baik tanpa campuran dari pelarut metanol yang tadi digunakan. Kemudian dilakukan uji KLT untuk melihat kandungan apa saja yag terdapat didalam ekstrak yang didapatkan. Setelah dilakukan uji KLT, ternyata masih terdapat 4 noda yang dimana itu membuktikan bahwa masih ada kandungan senyawa lain yang tidak diingnkan, sehingga dari hasil tersebut kita harus melakukan rekrisralisasi kembali agar mendapatkan senyawa isolasi terpenoid yang diinginkan.


IX. Pertanyaan Pasca Praktek

  1. Mengapa proses maserasi selalu membutuhkan waktu yang lama?
  2. Pada percobaan ini menggunakan metanol. Bagaimana pengaruh hasil produk jika metanol diganti dengan etanol?
  3. Pengujian KLT pada percobaan ini menggunakan fase gerak n-heksana. Apa pengaruh dari fungsi n-heksana dalam Percobaan ini?


X. Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari percobaan ini adalah :

  1. Teknik-teknik isolasi bahan alam khususnya terpenoid dapat dilakukan dengan berbagai cara  yaitu ekstraksi, uji kromatografi dan refluks.
  2. Sifat kimia steroid dengan reagennya yaitu jika direkasikan dengan pereaksi birch Lieberman akan membentuk larutan hijau.


XI. Daftar Pustaka

Achmad, S.A, 1986. Kimia Organik Bahan Alam. Universitas Terbuka. Jakarta.

Firn, R. 2010. Bahan Kimia Alam . Oxford: Biologi.

Harborne, J.B, 1987. Metoda Fitokimia Penuntun Cara Menganalisa Tumbuhan. Edisi II. Bandung : ITB

Marliana, S.D., Saleh, C. 2011. Uji Fitokimia dan Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kasar Etanol, Fraksi n- Heksana, Etil asetat, dan Metanol dari Buah Labu Air (Lagenari Siceraria (Morliana). J. Kimia Mulawarman, 8(2): 39-63.

Tim Praktikum Kimia Organik II. 2020. Penuntun Praktikum Kimia Organik II. Jambi : Universitas Jambi.

Selasa, 24 November 2020

Jurnal Percobaan IX "Isolasi Senyawa Bahan Alam (Flavonoid)"

JURNAL PERCOBAAN IX

“ISOLASI SENYAWA BAHAN ALAM (FLAVONOID)”






NAMA : KELANTAN

NIM : A1C118023


DOSEN PENGAMPU :

Dr.Drs.SYAMSURIZAL, M.Si.



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JAMBI

2020







PERCOBAAN IX


I. Judul : Isolasi Senyawa Bahan Alam (Flavonoid)

II. Hari, tanggal : Rabu, 24 November 2020

III. Tujuan

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah :

  • Dapat menguasai teknik-teknik isolasi bahan alam khususnya Flavonoid
  • Dapat mengenal sifat-sifat kimia Flavonoid melalui reaksi-reaksi pengenalan


IV. Landasan Teori

Senyawa flavonoid adalah senyawa polifenol yang mempunyai 15 atom karbon yang tersusun dalam konfigurasi C6-C3-C6, yaitu dua cincin aromatik yang dihubungkan oleh 3 atom karbon yang dapat atau tidak dapat membentuk cincin ketiga. Flavonoid merupakan kandungan tumbuhan hijau dan salah satu senyawa aktif yang menjadi penelitian peneliti dalam mengembangkan obat tradisional Indonesia. Hal penting dari penyebaran Flavonoid dalam tumbuhan adalah adanya kecenderungan kuat bahwa tumbuhan yang secara taksonomi berkaitan akan menghasilkan Flavonoid yang jenisnya serupa (Tim Praktikum Kimia Organik II, 2020).

Flavonoid adalah senyawa yang terdiri dari 15 atom karbon yang umumnya tersebar di dunia tumbuhan.Lebih dari 2000 flavonoid yang berasal dari tumbuhan telah diidentifikasi, tetapi ada tiga kelompok yang umum dipelajari, yaitu antosianin, flavonol, dan flavon. Antosianin (dari bahasa Yunani anthos, bunga dan kyanos, biru-tua) adalah pigmen berwarna yang umumnya terdapat di bunga berwarna merah, ungu, dan biru. Pigmen ini juga terdapat di berbagai bagian tumbuhan lain misalnya, buah tertentu, batang, daun dan bahkan akar. Flavnoid sering terdapat di sel epidermis. Sebagian besar flavonoid terhimpn di vakuola sel tumbuhan walaupun tempat sintesisnya ada di luar vakuola (Lukman, 1995).

Manfaat flavonoid antara lain untuk melindungi struktur sel, meningkatkan efektifitas vitamin C,  antiinflamasi, mencegah keropos tulang dan sebagai antibiotik . Sejumlah tanaman obat yang mengandung flavanoid telah di laporkan telah memiliki aktivitas antioksidan, antibakteri, antivirus,  antiradang, antielergi dan antikanker, di antaranya  tanaman teki dan meniran (Lumbessy, dkk, 2013).

flavonoid mempunyai banyak aktivitas farmakologi dengan masing-masing  mekanisme aksi terutama sebagai anti--oksidan dengan mekanisme pemecahan radikal bebas. Dengan dasar struktur flavonoid yang dapat melakukan donor hidrogen pada radikal bebas menjadikannya potensial sebagai anti-oksidan dibandingkan aktivitas farmakologi lain. Kedepannya diharapkan dengan kapasitas in vitro dan in vivo flavonoid yang potensial sebagai anti-oksidan dapat dikembangkan pada industri obat dan makanan sebagai produk dengan kemampuan mencegah radikal bebas (Alfaridz & Amalia, 2016).

Isolasi senyawa flavonoid dilakukan dengan cara kromatografi kertas preparatif. Mula-mula ekstrak kental n-butanol ditambahkan dengan metanol secukupnya. Kemudian ekstrak tersebut ditotolkan dengan arah memanjang seperti pita pada batas awal eluasi pada kertas Whatman no. 3 sampai jenuh. Selanjutnya kertas preparatif dieluasi menggunakan fase gerak yaitu BAA (n-butanol-asam asetat glasial-air dengan perbandingan 4:1:5), setelah mencapai batas eluasi kertas preparatif diangkat dan dikeringkan. Kemudian masing-masing pita yang terbentuk digunting menjadi potongan-potongan kecil dan diekstraksi dengan metanol (Djamil & Bakriyyah, 2015).


V. Alat dan Bahan

5.1 Alat

  • Erlenmeyer 250 ml
  • Gelas kimia 200 ml
  • Lumpang
  • Gelas ukur
  • Tabung reaksi 20 bh
  • Plat tetes
  • Pipet tetes
  • Corong gelas

5.2 Bahan

  • Pereaksi Deragendrof
  • Kloroform
  • NaOH padatan
  • Pereaksi Meyer
  • Etanol
  • Iodine
  • Pereaksi Wagner
  • Metanol
  • Brusin
  • Shinoda
  • Heksa
  • KI


VI. Prosedur Kerja

Cara uji teknik Shinoda (Mg + HCl)

  1. Dimasukkan 0,5 gr simplisia yang telah dilakukan ekstraksi dengan 10 ml etanol
  2. Dipanaskan selama 5 menit dalam tabung reaksi
  3. Disaring hasil ekstrak dan ditambahkan filtratnya beberapa tetas HCl pekat
  4. Ditambahkan lebih kurang 0,2 gr bubuk magnesium. Bila timbul warna merah tua, menandakan contoh kandungan flavonoid.

Cara lain uji Flavonoid

  1. Ditambahkan ekstrak etanol di atas dengan 2 tetes NaOH 10%. Adanya Flavonoid ditandai dengan perubahan warna kuning-orange merah.
  2. Digunakan sebutir kecil 8-katekin sebagai pembanding untuk ukuran Flavonoid dalam contoh tumbuhan yang dianggap (++) atau lagundi (+++) untuk jumlah kandungan flavonoid dalam simplisia.


Link video terkait percobaan IX

https://youtu.be/4KqbIT4a0wg


Permasalahan

  1. Pada percobaan ini ada yang menggunakan uji KLT dan tidak. Jadi, apa pengaruh dilakukan atau tidak dilakukannya uji KLT terhadap produk yang dihasilkan?
  2. Apa kegunaan penambahan bubuk Mg pada percobaan ini?
  3. Apa penyebab lamanya proses ekstraksi dan pengaruh cepat atau lamanya ekstraksi terhadap produk?

Senin, 23 November 2020

Jurnal Percobaan VIII "Isolasi Senyawa Bahan Alam (Steroid dan Terpenoid)"

JURNAL PERCOBAAN VII

“ISOLASI SENYAWA BAHAN ALAM (ALKALOID)”






NAMA : KELANTAN

NIM : A1C118023


DOSEN PENGAMPU :

Dr.Drs.SYAMSURIZAL, M.Si.



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JAMBI

2020







PERCOBAAN VIII


I. Judul : Isolasi Senyawa Bahan Alam (Steroid dan Terpenoid)

II. Hari, tanggal : Rabu, 24 November 2020

III. Tujuan

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah :

  1. Dapat menguasai teknik-teknik isolasi bahan alam khususnya steroid dan terpenoid.
  2. Dapat mengenal sifat-sifat kimia steroid dan terpenoid melalui reaksi pengenalan yang spesifik.


IV. Landasan Teori

Terpenoid merupakan senyawa kimia yang terdiri dari beberapa unit isopren. Kebanyakan terpenoid mempunyai struktur siklik dan mempunyai satu gugus fungsi atau lebih. Terpenoid umumnya larut dalam lemak dan terdapat dalam sitoplasma sel tumbuhan. Senyawa terpenoid terdiri atas beberapa kelompok. Senyawa terpenoid ini adalah salah satu senyawa kimia bahan alam yang banyak digunakan sebagai obat. Terpenoid adalah senyawa yang hanya mengandung karbon dan hidrogen atau karbon, hidrogen dan oksigen yang bersifat aromatis, sebagian terpenoid mengandung atom karbon yang jumlahnya merupakan kelipatan lima (Tim Praktikum Kimia Organik II, 2020).

Terpenoid , kadang-kadang disebut isoprenoid , adalah kelas besar dan beragam bahan kimia organik alami yang berasal dari senyawa isoprena 5-karbon, dan polimer isoprena yang disebut terpene . Sebagian besar merupakan struktur multiklik dengan gugus fungsi yang mengandung oksigen. Sekitar 60% dari produk alami yang diketahui adalah terpenoid. Meskipun kadang-kadang digunakan secara bergantian dengan "terpene", terpenoid mengandung gugus fungsi tambahan, biasanya mengandung O (Firn, 2010).

Terpenoid adalah senyawa yang hanya mengandung karbon dan hidrogen, atau karbon, hidrogen dan oksigen yang bersifat aromatis, sebagian terpenoid mengandung atom karbon yang jumlahnya merupakan kelipatan lima. Penyelidikan kimia selanjutnya menunjukan pula bahwa sebagian terpenoid mempunyai kerangka karbon yang di bangun oleh dua atom atau lebih unit C5 yang disebut isopren, unit-unit isopren biasanya saling berkaitan dengan teratur, dimana “kepala” dari unit satu berkaitan dengan “ekor” unit yang lain, kepala adalah merupakan ujung terdekat kecabang metil dan ekor merupakan ujung yang lain. Susunan kepala-ke-ekor ini disebut kaidah isopren. Kaidah ini merupakan ciri khas dari sebagian terpenoid sehingga dapat dijadikan dasar penetapan terpenoid, sehingga dapat digunakan sebagai dasar penetapan struktur terpenoid (Achmad, 1986).

Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan isopren dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30 asiklik yang disebut skualen. Triterpenoid berupa senyawa tak berwarna, berbentuk kristal, biasanya bertitik leleh tinggi (harborne, 1987).

Uji steroid dan triterpenoid menggunakan metode Liebermann-Bouchard, ekstrak dilarutkan dalam  kloroform kemudian ditambah pereaksi Liebermann-Bouchard (asam asetat anhidrat-H2SO4) menunjukkan hasil positif dengan adanya perubahan warna menjadi merah kecoklatan untuk steroid dan coklat-ungu untuk triterpenoid. Reaksi triterpenoid dengan pereaksi Liebermann menghasilkan warna merah-ungu sedangkan steroid memberikan warna hijau-biru. Hal ini didasari oleh kemampuan senyawa triterpenoid dan steroid membentuk warna oleh H2SO4 dalam pelarut asam asetat anhidrid. Perbedaan warna yang dihasilkan oleh triterpenoid dan streoid disebabkan perbedaan gugus pada atom C-4 (Marliana & Saleh, 2011) .


V. Alat dan Bahan

5.1 Alat

  • Tabung reaksi 20 bh
  • Erlenmeyer 250 ml
  • Plat tetes
  • Gelas kimia 200 ml
  • Pipet tetes
  • Lumpang
  • Corong gelas
  • Gelas ukur

5.2 Bahan

  • Pereaksi Deragendrof
  • Kloroform
  • NaOH padatan
  • Pereaksi Meyer
  • Etanol
  • Iodine
  • Pereaksi Wagner
  • Metanol
  • Brusin
  • Shinoda
  • Heksa 
  • KI


VI. Prosedur Kerja

  1. Dimasukkan 5 gr simplisia tumbuhan kering yang telah halus ke dalam erlenmeyer 250 ml
  2. Ditambahkan 25 ml etanol dan diaduk-aduk
  3. Dipanaskan di atas penangas air lebih kurang 10 menit
  4. Disaring dalam keadaan panas
  5. Diuapkan filtrat pelarutnya dengan rotary evaporator atau penangas air sehingga diperoleh ekstrak pekat etanol
  6. Dititrasi ekstraksi tersebut dengan sedikit eter
  7. Ditempatkan beberapa tetes eter dalam 2 lobang plat tetes dan dibiarkan kering
  8. Ditambahkan 2-3 tetes anhidrat asam asetat dan diaduk 
  9. Ditambahkan 1 tetes asam sulfat pekat dan diamati warna yang terbentuk. (Catatan : Timbulnya warna merah atau merah ungu yang tidak stabil kemungkinan karena adanya triterpenoid, sedangkan warna hijau karena adanya steroid)
  10. Dicek reaksi dengan ditambahkan hanya asam sulfat pekat pada lobang plat tetes satu lagi dan diamati warna yang terjadi (Catatan : kalau terbentuk yang warna, maka contoh tumbuhan yang diperiksa tidak mengandung terpenoid tapi senyawa lain yang bereaksi dengan asam sulfat pekat)
  11. Hasil



Link video terkait percobaan VIII

https://youtu.be/2ySdchSdzoc


Permasalahan

  1. Apa yang menyebabkan cepat atau lamanya proses maserasi dan pengaruhnya pada percobaan ini terhadap produk yang dihasilkan
  2. Pada percobaan ini proses penyaringan dilakukan saat larutan masih dalam keadaan panas. Jadi, mengapa penyaringan tidak dilakukan saat kondisi larutan sudah dingin atau tidak panas?
  3. Timbulnya warna merah atau merah ungu yang tidak stabil kemungkinan karena adanya triterpenoid. Jadi, bagaimana cara triterpenoid dapat mempengaruhi warna larutan?

Laporan Percobaan VII "Isolasi Senyawa Bahan Alam (Alkaloid)"

 LAPORAN PERCOBAAN VII

“ISOLASI SENYAWA BAHAN ALAM (ALKALOID)”






NAMA : KELANTAN

NIM : A1C118023


DOSEN PENGAMPU :

Dr.Drs.SYAMSURIZAL, M.Si.



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JAMBI

2020




VII. Data Pengamatan



VIII. Perhitungan



IX. Pembahasan

Alkaloid adalah sebuah golongan senyawa basa bernitrogen yang kebanyakan heterosiklik dan terdapat di tetumbuhan (tetapi ini tidak mengecualikan senyawa yang berasal dari hewan). Isolasi senyawa alkaloid dilakukan dengan menambahkan asam asetat pada ekstrak etanol sampai suasana menjadi asam, sehingga alkaloid akan membentuk garam alkaloid. Garam alkaloid ini kemudian dipartisi menggunakan etil asetat, sehingga didapatkan dua lapisan.

Pada percobaan isolasi alkaloid dengan menggunakan ekstrak daun teh, perlakuan pertama yang dilakukan yaitu merefluks larutan yang terdiri dari ekstrak daun teh yang ditambahkan dengan CaCO3 dan akuades . Yang mana tujuan dilakukan proses refluks/ atau pemanasan agar reaksi lebih cepat terjadi dan larutan dapat melarut secara sempurna. Proses refluks ini dilakukan selam 20 menit yang kemudian larutan disaring dan didekantasi dan didapatlah hasil larutan berwarna cokelat gelap. Setelah itu, dilakukan proses ekstraksi cair-cair yang bertujuan untuk memisahkan larutan dengan filtratnya dengan cara menuangkan filtrat ke dalam corong pemisah dan ditambahkan dengan metilen klorida. Metilen klorida sangat baik digunakan untuk proses pemisahan dikarenakan dapat memisahkan larutan dengan baik. Berikutnya dikocok larutan secara perlahan dan didapatlah hasil terbentuk 2 lapisan (lapisan atas berwarna coklat gelap dan lapisan bawah jernih) dan larutab jernih kemudian dipisahkan.

Selanjutnya dilakukan lagi proses ekstraksi kedua kali yaitu proses ekstraksi bertingkat dimana langkah yang dilakukan yaitu menambahkan kembali metilen klorida kedalam corong pemisah kemudian dikocok lagi secara perlahan kemudian terbentuk 2 lapisan lagi ( lapisan atas berwarna coklat gelap dan lapisan bawah berwarna hijau bening). Dimasukkan larutan yang hijau bening hasil ekstraksi kedalam Erlenmeyer dan ditambahkan dengan NA2SO4 anhidrat sebanyak 5 kali sudip dan dipanaskan agar reaksi bisa berjalan dengan cepat dan membentuk Kristal caffeine sebagai produk.

Perlakuan terakhir yaitu dilakukan proses reksristalisasi dengan cara menambahkan aseton kedalam gelas kimia dan dipanaskan didapatkan larutan berwarna kekuningan setelah itu didinginkan dan ditetesi dengan N-heksana sedikit demi sedikit tujuannya supaya larutan menjadi jenuh dan terbentuk endapan dan dihasilkan endapan selanjutnya didinginkan larutan menggunakan mangkuk berisi es batu agar Kristal terbentuk lebih cepat kemudian disaring menggunakan kertas saring dan dioven Kristal sekitar 5 menit dengan suhu 100C dan didapatlah Kristal caffeine dari ekstrak daun teh sebanyak 0,358gr dengan % ekstrak caffeine sebesar 1,432%.


X. Pertanyaan Pasca Praktek

  1. Mengapa daun teh harus dipastikan dalam kondisi persentase air minimal atau kering sebelum dilakukan Percobaan?
  2. Apa fungsi dari penambahan Na2SO4 anhidrat pada proses ekstraksi bertingkat?
  3. Pada percobaan ini ada dilakukan penambahan CaCO3. Apakah senyawa yang ikut terlarut saat proses ekstraksi akan mudah dihilangkan hanya dengan digunakannya kalsium karbonat?


XI. Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari percobaan ini adalah :

  1. Isolasi senyawa bahan alam alkaloid dilakukan dengan menggunakan teknik ekstraksi kemudian dilanjutkan dengan evavorasi maupun sublimasi.
  2. Senyawa alkaloid jika reaksikan dengan pereaksi meyer maka akan menghasilkan endapan berwarna kuning dan apabila senyawa alkaloid direaksikan dengan dpereaksi dragendorf akan membentuk senyawa putih.


XII. Daftar Pustaka

Chairil, dkk. 1994. Pengantar Praktikum Kimia Organik. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Tenaga Guru.

Hasnawati, 2005. Analisis Kuantitatif Kafein Dalam Minuman Suplemen Menggunakan Spektrofotometer UV-Vis. Kendari : UNHALU.

Hesse, M. 1981. Alkaloid Chemistry. Toronto: John Wiley and Sons, Inc.

Muderawan, I Wayan. 2002. Kimia Organik II. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.

Tim Praktikum Kimia Organik II. 2020. Penuntun Praktikum Kimia Organik II. Jambi : Universitas Jambi.

Laporan Percobaan XIII "Uji Lemak"

LAPORAN PERCOBAAN XIII “UJI LEMAK” NAMA : KELANTAN NIM : A1C118023 DOSEN PENGAMPU : Dr.Drs.SYAMSURIZAL, M.Si. PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA...